Sekolah yang aman adalah sekolah di mana para pegawai/pendidik… …secara terus-menerus memberikan perhatian serius untuk mewujudkan iklim sekolah yang aman serta mencegah, mengenali, dan menangani perilaku yang tidak pantas.
Dan di mana mereka terus melihat diri mereka secara kritis serta memastikan bahwa setiap kejadian menjadi pembelajaran untuk mengurangi kemungkinan terjadinya perilaku menyimpang di masa depan.
Semua ini berlangsung dalam budaya di mana baik siswa maupun pegawai diajak untuk merefleksikan sikap dan tindakan mereka, serta dalam budaya di mana setiap orang dapat berbicara secara terbuka tentang hal tersebut.
Keamanan sosial berkaitan dengan mendorong perilaku sosial yang baik, misalnya melalui aturan tata tertib di sekolah, serta memerangi perilaku menyimpang dan tidak diinginkan seperti rasisme, pelecehan seksual, ekstremisme, dan perlakuan tidak adil terhadap sesama.
Siswa berada di sekolah untuk belajar. Mereka hanya dapat belajar dan berkembang jika mereka merasa aman dan dapat menjadi diri mereka sendiri. Untuk itu, mereka perlu merasa rentan tanpa takut, merasa diperhatikan dan diterima, serta merasa menjadi bagian dari lingkungan.
Menjamin keamanan sosial berarti lebih dari sekadar mengatasi rasa tidak aman. Siswa membutuhkan ruang untuk menemukan batasan, melakukan kesalahan, belajar bertanggung jawab, dan mempertanggungjawabkan tindakannya.
Bagi siswa, sekolah bukan hanya tempat belajar materi pelajaran, tetapi juga tempat bertemu teman sebaya dan mengenal masyarakat beserta perbedaan norma, nilai, dan perilaku. Hal ini menuntut profesionalisme pedagogis di sekolah dan memunculkan pertanyaan seperti:
Para pegawai/pendidik juga hanya dapat bekerja dengan baik jika mereka merasa aman, dihargai, dan didengar. Mereka juga harus memiliki ruang untuk melakukan kesalahan dan tetap bertanggung jawab atas tugasnya.
Pembelajaran dan perkembangan tidak akan berjalan seiring dengan perasaan tidak aman.
Ketika siswa berada dalam situasi tegang atau penuh tekanan—bahkan jika itu berasal dari kekhawatiran mereka sendiri tentang masa depan—mereka ditantang untuk tetap bertindak dengan tepat terhadap diri sendiri dan orang lain.
Perundungan adalah bentuk agresi di mana satu atau lebih anak dengan sengaja menyakiti anak lain. Ada dua bentuk perundungan:
Perundungan sering terjadi secara tersembunyi, di tempat yang tidak terlihat oleh guru, misalnya di halaman sekolah atau lorong. Namun, perundungan juga terjadi secara daring (online). Hal ini terkadang menyulitkan guru untuk mendeteksinya tepat waktu.
Oleh karena itu, guru harus lebih peka terhadap tanda-tanda yang mungkin menunjukkan adanya perundungan, seperti:
Perundungan dapat memiliki berbagai penyebab. Namun, siswa yang cenderung pendiam atau cemas lebih berisiko menjadi korban. Begitu juga siswa yang gagap, kelebihan berat badan, atau memiliki ADHD atau autisme.
Jika Anda melihat seorang anak berbeda dari rata-rata dalam hal-hal tersebut atau lainnya, diskusikan dengan guru agar lebih waspada terhadap kemungkinan perundungan.
Alasan anak melakukan perundungan antara lain:
Mereka sebenarnya harus menghadapi ketakutan mereka sendiri, merasakan kerentanan, dan tetap tenang agar dapat menyelesaikan konflik secara sadar dengan orang lain.
Anak usia dini belum memiliki sistem neurologis yang berkembang sempurna. Otak mereka masih dalam tahap perkembangan. Anak yang dirundung dapat merasa kesepian dan rendah diri, bahkan sampai berpikir bahwa keadaan tidak akan pernah berubah—yang dapat memunculkan pikiran untuk bunuh diri. Dari luar, kita tidak dapat melihat apakah seorang anak memiliki pikiran seperti itu.
Oleh karena itu, anak kecil sangat membutuhkan dukungan sistem emosional orang tua atau pengasuh dalam situasi stres untuk membantu mengatur perasaannya. Dengan memeluk anak dan memberinya kesempatan untuk pulih dari rasa takut, anak dapat kembali tenang. Dari situ, anak belajar secara bertahap mengatur sistem sarafnya sendiri pada tahun-tahun awal kehidupannya.
Namun, terkadang orang tua atau pengasuh tidak selalu tersedia secara fisik atau emosional bagi anak, misalnya karena kesibukan, tidak berada di sekolah, atau karena mereka sendiri memiliki luka emosional atau trauma.
Dalam situasi tegang, mereka tidak mampu membantu anak mengelola rasa takut. Akibatnya, rasa panik atau takut masuk ke dalam sistem saraf anak. Anak juga tidak mendapatkan cukup kesempatan untuk mengembangkan kemampuan keterlibatan sosial. Akibatnya, anak kesulitan merasa aman dan nyaman dalam interaksi sosial.
Di kemudian hari, perasaan panik dan cemas ini mudah muncul kembali dalam situasi stres.
Hal ini juga dapat terjadi di kelas atau dalam interaksi dengan guru yang (karena pengalaman pribadinya) mengalami kesulitan menjalin hubungan sosial. Pemicu bisa bermacam-macam: pilihan kata, intonasi suara, bahasa tubuh, atau ekspresi wajah.
Sesuatu di masa kini secara tidak sadar mengingatkan pada pengalaman masa lalu, sehingga perasaan tidak aman tersebut muncul kembali. Dalam beberapa kasus, siswa dapat berada dalam kondisi takut yang menetap atau mudah terpicu.
Dalam situasi tegang, mereka cenderung bereaksi dengan melawan (fight) atau menghindar (flight), dan dalam kondisi ekstrem dapat mengalami “membeku” (freeze). Dalam keadaan seperti ini, kemampuan berpikir jernih menjadi lebih sulit.
Pola-pola yang telah dijelaskan di atas dapat diubah. Namun, hal ini tidaklah mudah. Akan muncul kegelisahan batin serta berbagai mekanisme psikologis (seperti penekanan, distorsi, pengabaian, dan penyebab dari luar) yang membuat siswa tidak menangkap pesan yang Anda sampaikan.
Sebenarnya, dalam diri mereka, siswa “mengetahui” bahwa rasa takut atau ketidakamanan tersebut tidak sepenuhnya benar—namun perasaan itu tetap ada. Siswa juga membentuk cerita dan gambaran tentang diri mereka sendiri, orang lain, atau dunia, yang mereka gunakan untuk “menjelaskan” perilaku mereka. Lama-kelamaan, mereka mempercayai cerita itu (“Memang saya seperti ini”), sehingga rasa takut menjadi semakin kuat tertanam.
Hal ini menjadi tantangan tersendiri dalam dunia pendidikan—baik bagi guru, kepala sekolah, maupun tenaga kependidikan.
Mereka dapat menciptakan sistem keterlibatan sosial yang aman dan dapat diandalkan, di mana siswa dapat berlatih dan mengembangkan kemampuan sosialnya. Sebuah sistem yang membantu siswa menyadari rasa takut mereka serta memberi mereka pilihan untuk keluar dari reaksi melawan (fight) atau menghindar (flight) dalam situasi yang sebenarnya tidak memerlukan respons tersebut.
Untuk mewujudkannya, hal yang paling mendasar adalah membuat siswa merasa “dilihat”. Ada interaksi positif dan timbal balik—seseorang menatap dan tersenyum kepada mereka. Ketika siswa mengalami pengalaman positif seperti ini, mereka menjadi lebih rileks dan merasakan keterhubungan dengan diri sendiri maupun orang lain. Dalam kondisi ini, sistem saraf menjadi lebih tenang.
“Pendidikan bukanlah perang. Justru karena itu, kita harus mengambil langkah pertama dalam pendidikan dan terus menegaskan bahwa bentuk keamanan lain harus menjadi sesuatu yang wajar: keamanan yang didasarkan pada saling percaya.”Penting untuk memberi siswa kesempatan mengalami momen-momen kecil yang positif (micro-moments) secara berulang. Selain itu, mereka perlu diajarkan untuk menyadari dan benar-benar melihat pengalaman positif tersebut, sehingga mereka mampu memberi makna pada pengalaman itu.
Dengan cara ini, kita dapat berkontribusi pada perubahan yang bertahan lama. Banyak micro-moments dapat membantu siswa berpindah ke kondisi otonom yang berbeda: dari sistem “siaga/tegang” (sympathetic) menuju sistem keterlibatan sosial.
Budaya sekolah yang profesional memungkinkan hal ini terjadi. Dalam budaya tersebut, terdapat batasan yang jelas—termasuk bagi siswa—namun tetap menjaga hubungan yang baik. Hal ini menuntut tiga hal dari guru dan pimpinan sekolah:
Dengan sikap seperti ini, kita memberikan kontribusi besar bagi siswa. Bahkan mungkin kita sedang mengajarkan pelajaran hidup yang paling penting.
Siswa membutuhkan lingkungan sekolah yang aman untuk berkembang secara optimal. Perundungan (bullying) merupakan isu penting dalam keamanan sosial di sekolah. Di pendidikan dasar, perundungan menciptakan suasana tidak aman yang berdampak pada proses belajar dan perkembangan siswa.
Selain memengaruhi suasana sekolah secara negatif, siswa yang pernah mengalami perundungan dapat merasakan dampaknya hingga bertahun-tahun kemudian. Sayangnya, perundungan masih sering terjadi di setiap sekolah dan di setiap kelas. Oleh karena itu, perilaku perundungan memerlukan perhatian terus-menerus, baik yang terjadi secara langsung (offline) maupun secara daring (online).
Penting bagi siswa untuk memahami perbedaan antara menggoda (teasing), merundung (bullying), dan bertengkar (arguing).
Dengan memahami perbedaan ini, siswa dapat lebih tepat menilai apakah perilaku orang lain telah melampaui batas mereka. Dengan demikian, mereka dapat menyatakan batasan diri saat terjadi perundungan atau menyelesaikan konflik melalui dialog ketika terjadi pertengkaran.
Karena itu, hal ini perlu selalu dijelaskan di kelas. Misalnya, dengan menyebutkan berbagai karakteristik, lalu meminta siswa menentukan apakah itu termasuk perundungan atau sekadar menggoda, kemudian mendiskusikannya bersama.
Sukses,
Johan Molenaar
Tunas Wiyata Institute